Aku mencintaimu dan kamu tidak perlu tahu
Itulah cerita tentang Bumi,laki-laki seusia kita yang sedang diam-diam menyukai adik kelasnya.Namanya Mentari.
Hampir setiap hari Bumi
mencuri pandang kepada Mentari, tapi namanya
saja Mentari, setiap kali berusaha melihatnya , Bumi cepat-cepat
menunduk, silau. Bumi selalu merasakan kehadirannya , merasakan
kehilangannya ketika malam tiba.
Resah sekali laki-laki ini. Setiap hari tak pernah terlewatkan
hatinya menyebut nama Mentari dan selalu lebih dari sekali , minimal 5
kali sehari.Aku yang mengenal Bumi , pernah menasihatinya , mengapa ia
tak mengungkapkannya saja kepada Mentari,Bumi menolak mentah-mentah.
“Kau tau kawan,seandainya aku mengungkapkannya,akan ada banyak hal yang hancur”
Aku tidak mengerti,apanya yang hancur.
Paling tidak aku tahu jika Bumi mencintai Mentari sebagaimana dulu
Ayahku pertama kali bertemu Ibu,malu-malu memandang,enggan-enggan
mendekat.
Bumi,laki-laki dengan caranya sendiri.Mendekati Mentari dengan cara yang tidak pernah aku pahami.
“Aku mendekatinya dengan doa,kawan”
Ayolah,Mentari itu menarik sekali,auranya begitu dekat,kita bisa
merasakan kehadirannya ketika memulai hari.Merasa begitu kesepian
tanpanya di malam hari.Seolah kehilangannya adalah akhir dunia.
Tentu saja,kehilangan Mentari benar-benar akan menjadi akhir dunia
bagi Bumi. Kisah yang kapan selesainya ini aku tak mengerti.Bumi tetap
saja ditempatnya.
“Aku mencintainya dan dia tidak perlu tahu”
“Aku yakin,pada masanya. Tuhan sendiri yang akan memberitahu dan kami
dengan sendirinya akan mendekat,bersabarlah untuk waktu itu
kawan,bersabarlah”
Aku mengalah,gemas bukan main menasihati orang-orang seperti
Bumi.Disaat penduduk planet ini mengungkapkan perasaannya semudah
memesan es teh di warung makan.
Bumi enggan.Mentari tidak pernah tahu ,entah sampai kapan.
“Kira-kira,apa kamu tahu perasaan mentari ?”,Aku bertanya kepada Bumi.
“Aku yakin dia juga mencintaiku”
“Kau yakin sekali”
“Bukan cinta kalau ia tidak membuatmu yakin”,Bumi tersenyum begitu dalam.
Aku masih tidak mengerti apa yang dia katakan.
by :kurniawangunadi





0 comments:
Post a Comment